Dinyatakan ODF, Temanggung Dorong Kepemilikan Jamban

Pencanangan Germas dan deklarasi ODF di Kabupaten Temanggung. (Foto : ist)

Temanggung (wartapurworejo.com) – Pemerintah Kabupaten Temanggung Temanggung telah menyatakan bahwa Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan di wilayahnya sudah mencapai 100 persen. Namun demikian, kepemilikan jamban keluarga baru mencapai angka 88,3 persen. Sejumlah 11,7 persen sisanya hingga kini masih belum mempunyai jamban keluarga.

“Untuk Temanggung saat ini sudah ODF 100%, artinya secara akses masyarakat 100% sudah menggunakan jamban, meskipun untuk kepemilikan jamban baru 88,3%, masih ada 11,7% yang belum mempunyai jamban,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kabupaten Temanggung, Sri Hartati, Senin (16/11/2020).

Terkait 11,7 persen keluarga yang belum punya jamban ini, menurut Sri Hartati, pihaknya terus mengupayakan dan mendorong mereka agar segera memiliki jamban sendiri di rumahnya. Pihak Dinkes juga gencar melakulan sosialisasi agar warga punya kesadaran membuat jamban keluarga.


“Warga yang 11,7 persen ini diupayakan dan didorong agar kepemilikan jamban bisa sampai 100%. Jadi sosialisasi terus digalakkan untuk mengubah perilaku masyarakat dan mendorong kesadaran masyarakat untuk memiliki jamban,” ujar Sri Hartati.

Sebenarnya, menurut Sri Hartati, dari dana Bantuan Sosial (bansos) untuk masyarakat miskin (Maskin) pun ada untuk pengadaan jamban. Bantuan dari Pemerintah Daerah setempat juga tersedia.

Pada awal Tahun 2020 diungkapkan Sri sudah dianggarkan bantuan dari APBD untuk pengadaan jamban sebesar Rp2,5 juta per unit. Total bantuan untuk 2.500 unit jamban dan 193 unit septik tank. Hanya saja anggaran itu urung diberikan, karena refocusing penanganan Covid-19.

“Jadi tahun ini tidak ada bantuan untuk jamban, karena refocusing. Mulanya ada anggaran untuk 2.500 unit jamban dan 193 unit septik tank. Nilainya Rp2,5 juta per unit, tapi ada refocusing untuk penanganan Covid-19,” katanya.

Sementara belum ada bantuan, Sri Hartati mengimbau warga yang belum memiliki jamban keluarga agar tidak buang air besar sembarangan, karena hal itu berdampak pada banyak hal. Di antaranya penyebaran penyakit menular, anak kurang gizi dan stunting.

“Dampaknya banyak sekali, diantaranya penyebaran penyakit menular, timbulnya anak kurang gizi atau gibur (gizi buruk), dan stunting. Jadi untuk warga yang belum punya jamban didorong untuk bisa punya jamban. Bila belum punya untuk tidak BAB sembarangan,” tambahnya.

Dari pantauan, sejumlah warga di Kelurahan Madureso dan Desa Lungge masih ada yang tidak memiliki jamban keluarga. Di Kelurahan Madureso, warga menggunakan toilet umum. Sedangkan di Desa Lungge banyak yang memanfaatkan jamban di tempat ibadah.

Kepala Desa Lungge Masudin Nurrahman, mengatakan, dari sekitar 60an Kepala Keluarga (KK) di desanya, hanya sekitar satu persen yang belum memiliki jamban. Kebanyakan mereka mengakses toilet di mushola atau masjid.

“Sebelumnya sudah ada bantuan untuk membuat septik tank, jadi tiap satu unit digunakan untuk beberapa jamban warga,” katanya. (Sumber Pemprov Jateng)

Mungkin Anda juga menyukai